Seiring berjalannya waktu, gerakan tersebut berkembang dan mendapat dukungan dari kelompok masyarakat yang mengungkapkan kekecewaan terhadap kenaikan harga di Prancis.
Baca Juga: Gwaneumsa Temple Jeju, Kuil Buddha di Kaki Hallasan yang Menawarkan Suasana Tenang
Perluasan dukungan itu membuat aksi protes menjangkau wilayah-wilayah lain di negara tersebut.
Salah satu demonstrasi terbesar dalam rangkaian aksi ini berlangsung pada 17 Oktober 2026.
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Prancis yang dikutip dalam laporan tersebut, sekitar 550.000 orang menghadiri demonstrasi pada hari itu.
Baca Juga: Predsiden Prabowo Gratiskan Pendidikan SMA Taruna Nusantara dan Perluas Kampus di Enam Wilayah
Angka tersebut menunjukkan besarnya jumlah peserta dalam salah satu aksi yang berlangsung selama gelombang protes.
Dalam menghadapi demonstrasi sebelumnya, aparat penegak hukum Prancis dilaporkan menggunakan sejumlah perlengkapan pengendalian massa, termasuk gas air mata, granat kejut, dan meriam air.
Penggunaan peralatan tersebut menjadi bagian dari penanganan terhadap para pengunjuk rasa.
Baca Juga: Alexander Zverev Hancurkan Arthur Fery dan Melaju ke Semifinal Erste Bank Open 2026
Gelombang blokade terbaru menunjukkan bahwa ketegangan terkait tuntutan pendidikan dan persoalan biaya hidup masih menjadi bagian dari situasi protes di Prancis.
Seruan Pierre Sourzat untuk melanjutkan aksi pada awal pekan juga mengindikasikan bahwa mobilisasi siswa diperkirakan belum berakhir.
Namun, informasi yang tersedia belum memastikan berapa lama blokade akan berlangsung atau apakah seluruh sekolah yang terdampak akan kembali beroperasi secara normal dalam waktu dekat.
Baca Juga: Alexander Zverev Hancurkan Arthur Fery dan Melaju ke Semifinal Erste Bank Open 2026
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada situasi di lapangan dan keputusan para peserta aksi.***