Beritaonline.co - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat perhatian. Kali ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap adanya temuan yayasan yang disebut meminta setoran uang kepada mitra dapur MBG berdasarkan jumlah ompreng yang disalurkan.
Masalahnya, menurut Sudaryono, yayasan tersebut disebut tidak memberikan kontribusi terhadap operasional maupun pembinaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Jadi ceritanya, dapurnya sudah dibangun dan operasional jalan, tapi ada permintaan setoran per ompreng. Ibaratnya, yang masak orang lain, tapi ada yang ikut nagih uang per kotak. Waduh, ini bukan bagi-bagi lauk, tapi bagi-bagi urusan.
Sudaryono menjelaskan, ada mitra yang sudah membangun dapur MBG kemudian diminta menyetorkan sejumlah uang kepada yayasan berdasarkan jumlah ompreng yang disalurkan.
Baca Juga: Gaji Rocky Gerung Jadi Wantimpres Tembus Rp76,5 Juta per Bulan
Menurut dia, yayasan yang dimaksud tidak aktif dalam operasional dapur dan tidak melakukan pembinaan terhadap SPPG.
"Adanya mitra yang kemudian sudah membangun dapur itu, diminta untuk menyetorkan sejumlah uang per ompreng kepada yayasan, di mana yayasan ini tidak melakukan apapun, tidak memiliki kontribusi apapun tidak juga aktif di dapur, tidak melakukan pembinaan, tidak mempunyai kontribusi apapun terhadap jalannya dapur SPPG yang dinaungi oleh yayasan tersebut," ujar Sudaryono.
Temuan tersebut dinilai perlu ditindaklanjuti karena permintaan setoran tambahan berpotensi menambah beban mitra yang menjalankan operasional dapur.
Kalau biaya operasional makin banyak, yang dikhawatirkan bukan cuma dompet mitra yang ikut kurus, tetapi juga kualitas makanan yang menjadi tujuan utama program MBG.
Baca Juga: Tito Cek Langsung Rumah Penerima BSPS, Biar Bantuan Nggak Nyasar ke Rumah Orang Kaya
Sudaryono menegaskan pengelolaan anggaran MBG harus diarahkan semaksimal mungkin untuk menghasilkan makanan yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.
Ia juga menekankan pentingnya pertanggungjawaban dan transparansi dalam penggunaan anggaran.
"Intinya kami ingin pelaksanaan MBG ini betul-betul uang yang tersalurkan itu dikonversi menjadi menu makanan yang kualitasnya baik dan diterima dengan baik, kandungan gizinya baik, pertanggungjawabannya baik, akuntabilitasnya baik dan transparan," kata Sudaryono.
Artinya, uang program MBG diharapkan benar-benar berujung di piring penerima manfaat dalam bentuk makanan bergizi. Bukan malah habis di perjalanan sebelum sampai ke dapur.