Menjunjung tinggi kehormatan wanita.
Menjaga kehormatan diri di muka umum.
Senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya.
Tidak sekali-kali merugikan rakyat.
Tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat.
Menjadi contoh dan memelopori usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya.
Kalau semuanya dijalankan, sebenarnya tidak perlu terlalu banyak menjelaskan bahwa TNI adalah Tentara Rakyat. Masyarakat bisa melihatnya langsung dari perilaku para prajurit.
Menjadi Tentara Rakyat juga bukan perkara siapa yang pangkatnya paling tinggi atau jabatannya paling keren.
Setiap prajurit, apa pun pangkat dan kedudukannya, tetap harus taat aturan, disiplin, menghormati atasan, tidak arogan, dan tidak merasa paling hebat.
Jangan sampai seragam membuat seseorang merasa menjadi “bosnya rakyat”.
Prajurit justru dituntut mampu mengendalikan emosi, bersikap sabar, serta tidak menggunakan kewenangan secara sembarangan.
Baca Juga: HUT ke-81 TNI: 3.378 Personel Turun, Enam Kodam Baru Diresmikan
Sebab, Tentara Rakyat harus selalu ingat dari mana dirinya berasal.
Kalau berasal dari rakyat, ya harus mengerti rakyat. Kalau rakyat sedang kesulitan, harus berusaha membantu. Kalau masyarakat membutuhkan pertolongan, prajurit harus hadir.
Di era demokrasi, masyarakat memang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi.