Salah satu bagian yang menarik perhatian pengunjung adalah lantai rumah yang dibuat dari tanah.
Baca Juga: Mendiktisaintek Perkuat Peran Kampus dalam Pengembangan Chip Merah Putih
Berbeda dari rumah modern yang umumnya menggunakan keramik, semen, atau bahan pelapis lainnya, lantai tanah menjadi salah satu karakteristik yang masih dapat dijumpai pada rumah tradisional di kawasan tersebut.
Dalam tradisi setempat, permukaan lantai tanah dirawat menggunakan campuran kotoran kerbau atau sapi pada waktu tertentu.
Praktik ini dikenal sebagai bagian dari cara perawatan tradisional yang bertujuan membantu mengurangi debu dan menjaga kondisi permukaan lantai.
Baca Juga: Biar Nggak Salah Paham! Barang dari Ponpes HQ Mulai Dikembalikan Polri
Kebiasaan tersebut memperlihatkan adanya pengetahuan lokal yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bagi wisatawan, Desa Sade menawarkan kesempatan untuk mengenal arsitektur tradisional secara lebih dekat.
Pengunjung dapat mengamati bagaimana bentuk atap, bahan bangunan, dan kondisi lantai menjadi bagian dari karakter rumah masyarakat Suku Sasak.
Baca Juga: Waduh! Polisi Ngevape Bisa Kena Semprit, Bahkan di Luar Dinas!
Hal-hal tersebut juga memperlihatkan perbedaan antara pola pembangunan rumah tradisional dan perumahan modern.
Arsitektur rumah tradisional pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan bentuk fisik bangunan.
Rumah juga dapat mencerminkan kebiasaan, keterampilan, serta cara masyarakat menyesuaikan kehidupan dengan lingkungan.
Baca Juga: Wisata Ancol Jakarta, Destinasi Favorit untuk Menikmati Pantai dan Suasana Laut
Dalam konteks Desa Sade, penggunaan alang-alang, bambu, dan tanah menunjukkan hubungan antara hunian tradisional dan sumber daya yang tersedia di sekitarnya.