Bagi wisatawan yang menyukai aktivitas luar ruang, kawasan hutan monyet di bagian utara desa bisa menjadi pilihan.
Jalur trekking di kawasan tersebut membawa pengunjung menyusuri habitat alami monyet sekaligus menikmati kekayaan alam sekitar.
Karena satwa berada di habitatnya, wisatawan tetap perlu menjaga jarak dan tidak mengganggu atau memberi makan hewan.
Trekking juga memberikan kesempatan untuk melihat lebih dekat vegetasi dan suasana hutan yang masih alami.
Kawasan sekitar Tetebatu juga dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil pala dan tembakau.
Keberadaan komoditas tersebut menjadi bagian dari kehidupan dan aktivitas masyarakat setempat.
Masuknya Tetebatu dalam nominasi Desa Wisata Terbaik dunia menjadi bagian dari perjalanan panjang desa tersebut dalam mengembangkan potensi pariwisatanya.
Keunggulan Tetebatu bukan hanya terletak pada pemandangan alam. Kehidupan masyarakat, budaya lokal, aktivitas pertanian, hingga berbagai pengalaman berbasis alam menjadi satu kesatuan yang membuat karakter desa ini berbeda.
Jika nantinya Tetebatu berhasil meraih penghargaan tersebut, sorotan terhadap desa di kaki Rinjani ini tentu akan semakin besar.
Namun, terlepas dari hasil penghargaan, potensi wisata Tetebatu telah menjadi bagian penting dari perkembangan pariwisata di Lombok Timur.
Bagi wisatawan, berkunjung ke Tetebatu bukan sekadar mencari tempat untuk berfoto. Ada alam yang bisa dijelajahi, kehidupan masyarakat yang bisa dipelajari, serta berbagai pengalaman yang membuat perjalanan terasa lebih berkesan.***
Artikel Terkait
Kuta Bali Punya Sejarah Panjang, Dulu Hutan Rimba Kini Jadi Destinasi Favorit
Menjelajah Mentawai, Surga Tersembunyi yang Masih Jauh dari Wisata Massal
Ada Petunjuk Aliran Uang, KPK Sita Dokumen dari Rumah Pejabat ATR/BPN
Data Pentagon Disorot, Korban Tewas Perang Iran Diduga Capai 23 Orang
Anggaran Belum Cair, Operasional SPPG MBG di Simeulue Terhenti Sementara