“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih segar karena tidak ada delay (penundaan) waktu, sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” jelas Sudaryono.
Baca Juga: Hampir Empat Dekade Menanti, Indonesia Akhirnya Angkat Trofi Lagi di SUGBK
Sistem prasmanan juga memberikan keleluasaan kepada penerima manfaat untuk menentukan jumlah makanan yang akan diambil sesuai kebutuhan.
Jika masih terdapat makanan yang tersedia, siswa dapat mengambil tambahan.
Pola tersebut dinilai dapat membantu mengurangi makanan yang tidak habis dan akhirnya menjadi limbah.
Sudaryono menyampaikan laporan awal dari pelaksanaan uji coba menunjukkan kondisi ketersediaan makanan dalam sistem prasmanan cukup baik.
Baca Juga: TNI adalah Tentara Rakyat, Bukan Tentara yang Merasa Paling Hebat
“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh (segar), kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa, bisa nambah, dan waste (sisa)-nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata dia.
BGN juga melihat model prasmanan sebagai bagian dari penguatan fungsi edukasi dalam program MBG.
Sekolah dilibatkan dalam proses penyajian untuk memastikan pelaksanaan berjalan dengan baik dan sesuai standar.
Namun, penerapan sistem ini membutuhkan kesiapan dari dapur maupun sekolah.
Baca Juga: HUT ke-81 TNI, Prabowo Tegas: Prajurit Harus Hadir Saat Rakyat Butuh
Pengelolaan makanan harus tetap memperhatikan kebersihan dan penggunaan perlengkapan yang sesuai. Siswa juga dapat dilibatkan dalam proses pelayanan secara terjadwal.
Sudaryono menilai pelatihan menjadi salah satu hal penting dalam penerapan sistem prasmanan.
Ia mengatakan model tersebut membutuhkan pembiasaan agar dapat berjalan dengan baik seperti sistem penyediaan makanan sekolah di negara lain.