Sesak napas, batuk berkepanjangan, serta penurunan kesadaran menjadi beberapa tanda yang perlu segera mendapatkan perhatian medis.
Anak yang mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan dan minum juga perlu segera mendapatkan pertolongan.
Untuk mencegah paparan, orang tua dianjurkan rutin memantau AQI atau ISPU selama musim karhutla.
Baca Juga: Tulungagung Jadi Lokasi Uji Coba Sistem Rujukan Berbasis Kompetensi, KRIS, dan iDRG
Pemantauan perlu dilakukan meskipun sumber kebakaran berada jauh karena asap dapat terbawa hingga ratusan kilometer.
IDAI juga menyarankan keluarga menyiapkan ruang bersih di rumah.
Ruangan tersebut sebaiknya memiliki sedikit pintu dan jendela serta dapat dilengkapi alat pembersih udara portabel yang tidak menghasilkan ozon.
Saat kualitas udara buruk, anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup.
Baca Juga: Sekolah Diberi Ruang Menilai Layanan MBG, BGN Perkuat Sistem Pengawasan
Jika rumah menggunakan AC, pilih mode closed vent atau air recirculation agar udara dari luar tidak masuk secara langsung.
Kualitas udara di dalam rumah juga perlu dijaga. Orang tua disarankan menghindari rokok, penggunaan kompor gas atau kayu bakar, perapian, lilin, semprotan aerosol, serta kegiatan memasak yang menghasilkan banyak asap.
Anak juga perlu membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika udara terlihat atau berbau asap.
Untuk anak berusia dua tahun atau lebih yang harus keluar rumah, penggunaan masker dapat membantu mengurangi paparan partikel, sedangkan kacamata dapat digunakan untuk mengurangi iritasi pada mata.
Bagi anak dengan asma, alergi, atau penyakit kronis lainnya, obat rutin termasuk obat pereda cepat perlu dipastikan selalu tersedia selama kondisi udara buruk.***