Baca Juga: Laksamana Malahayati Jadi Ikon Perlawanan, Pasukan 1000 Janda Siap Tayang 12 November 2026
Kematian Davius dan Seibel tidak tercatat dalam DCAS sebagai bagian dari korban operasi masing-masing.
The Washington Post juga melaporkan setidaknya dua personel militer AS lainnya meninggal di Timur Tengah selama periode perang dengan Iran, tetapi belum masuk dalam basis data publik Pentagon.
Berdasarkan data DCAS, sebanyak 18 personel militer AS tercatat meninggal sejak konflik dengan Iran dimulai.
Data yang sama juga menunjukkan lebih dari 820 personel mengalami luka dalam konflik tersebut.
Dari 18 kematian yang tercatat, 14 di antaranya masuk dalam kategori Operation Epic Fury, istilah yang digunakan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk operasi militer terhadap Iran.
Sementara empat kematian lainnya dimasukkan dalam kategori Overseas Operations, yang berkaitan dengan periode setelah gencatan senjata pada 7 Juli.
Perubahan klasifikasi tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian. Pentagon sempat memindahkan empat nama dari daftar korban Operation Epic Fury ke kategori Overseas Operations. Pentagon menjelaskan, kategori baru itu dibuat karena Operation Epic Fury telah berakhir.
DCAS sendiri dikelola oleh Defense Manpower Data Center. Sistem tersebut digunakan untuk menghimpun informasi mengenai personel militer AS yang meninggal, terluka, sakit, maupun mengalami cedera dalam berbagai konflik dan operasi. Data diperbarui berdasarkan informasi dari empat matra militer AS.
Ketidaksesuaian angka korban tersebut kemudian mendapat perhatian dari sejumlah anggota Kongres AS.
Senator Demokrat yang menjadi anggota Senate Armed Services Committee mendesak Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan data korban perang Iran secara lengkap dan akurat.
Sejumlah anggota Kongres menilai perubahan klasifikasi dan perbedaan angka dalam DCAS memunculkan pertanyaan mengenai transparansi serta konsistensi laporan publik Pentagon.
Kirsten Gillibrand, anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, juga disebut telah mengirim permintaan informasi kepada Pentagon mengenai perbedaan antara data DCAS dan angka yang diketahui secara internal, menurut sumber yang dikutip The Hill.
Anggota DPR Adam Smith dari Partai Demokrat mengatakan informasi mengenai kemungkinan jumlah korban yang lebih tinggi perlu diperhatikan.
Menurut dia, kematian akibat serangan musuh maupun kematian non-tempur sama-sama merupakan kehilangan personel ketika sedang menjalankan tugas.
Artikel Terkait
Hujan Deras Berhari-hari, 55 Ribu Warga Hainan Dievakuasi
Drone Dicegat Dekat Mekkah, OKI Kecam Dugaan Serangan Houthi
AS Setujui Penjualan 48 Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi Senilai Rp431 Triliun