Namun, berdasarkan keterangan Puan, pertemuan kali ini berlangsung dalam suasana silaturahmi sekaligus membicarakan persoalan bangsa dan negara.
Puan kemudian menggambarkan hubungan tersebut dengan kalimat yang cukup familiar di telinga masyarakat.
Baca Juga: Korban Dugaan Keracunan Makanan di Batang Ditangani, Gibran Minta Investigasi Tuntas
“Jadi intinya adalah kami tetap seperti keluarga, jauh di mata tapi selalu dekat di hati,” tandasnya.
Kalimat tersebut sekaligus menjadi gambaran yang disampaikan Puan mengenai suasana pertemuan.
Kalau biasanya orang bilang, “Jauh di mata, dekat di hati,” kali ini kalimatnya muncul di tengah pertemuan dua tokoh yang memang sama-sama punya kesibukan luar biasa.
Maklum, kalau Presiden dan tokoh politik ketemu, publik biasanya langsung ikut penasaran: “Ini ngobrol biasa apa ada cerita lain?”
Baca Juga: Tawuran di Makassar Berakhir Tragis, Polisi Cari CCTV dan Periksa Saksi
Puan menjelaskan bahwa pertemuan tersebut mencakup takziah, pembicaraan mengenai bangsa dan negara, serta silaturahmi.
Jadi untuk urusan tafsir macam-macam, publik tentu bisa punya pandangan masing-masing. Yang jelas, yang disampaikan Puan adalah pertemuan berlangsung akrab dan menjadi momentum menjaga silaturahmi.
Sementara itu, Prabowo sebelumnya datang ke kediaman Megawati untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Guruh Soekarnoputra yang meninggal pada Sabtu (26/9/2026).
Guruh kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Keluarga besar juga menggelar tahlilan hari ketiga di kediamannya di Jalan Sriwijaya, Jakarta, pada Senin malam.
Jadi, pertemuan di Teuku Umar kali ini bisa dibilang bukan cuma soal datang bertakziah, tapi juga menjadi momen untuk kembali duduk bersama dan menjaga komunikasi.
Politik boleh punya dinamika, tapi silaturahmi jangan sampai ikut masuk mode “mute”. (Glo)