Beritaonline.co - Tawuran antarkelompok di Jalan Kandea III, Kelurahan Bunga Eja Beru, Kecamatan Tallo, Makassar, Minggu dini hari, berakhir tragis.
Seorang warga bernama Rafli Ramadhani alias Pingky (19) meninggal dunia setelah diduga mengalami luka tembak.
Peristiwa ini langsung menjadi perhatian. Bukan cuma karena tawurannya melibatkan massa dalam jumlah besar, tetapi juga karena polisi kini ikut melakukan pemeriksaan terhadap tindakan anggotanya saat membubarkan keributan tersebut.
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengatakan pihaknya masih mendalami apakah tindakan personel di lapangan sudah sesuai dengan standar operasional prosedur atau SOP.
Baca Juga: Korban Dugaan Keracunan Makanan di Batang Ditangani, Gibran Minta Investigasi Tuntas
"Nanti kami akan cari CCTV-nya, kami akan periksa saksi-saksi di lapangan. Apakah tindakan yang dilakukan oleh anggota ini sudah sesuai SOP atau belum," kata Arya di Makassar, Minggu.
Menurut informasi awal yang diterima kepolisian, tawuran tersebut melibatkan lebih dari 100 orang. Sementara personel polisi yang datang ke lokasi saat kejadian disebut hanya lima orang.
Situasinya pun disebut cukup panas. Polisi datang dengan tujuan membubarkan massa agar bentrokan tidak semakin melebar dan menimbulkan korban lainnya.
Arya menjelaskan, petugas saat itu melakukan tembakan peringatan dengan harapan kelompok yang terlibat tawuran segera membubarkan diri.
Baca Juga: Abdul Mu'ti Tekankan PPG Bukan Sekadar Sertifikasi, Guru Harus Mampu Menginspirasi
Masalahnya, situasi di lapangan ternyata tidak semudah menyuruh orang, "Ayo bubar, bubar!"
Menurut keterangan kepolisian, petugas justru mendapat serangan berupa lemparan batu dan anak panah busur. Sejumlah orang juga disebut menggunakan tameng yang terbuat dari tripleks.
Kondisi tersebut kini menjadi bagian penting yang sedang diperiksa polisi untuk mengetahui rangkaian kejadian secara utuh.
Rafli kemudian ditemukan mengalami luka yang diduga akibat tembakan pada bagian punggung yang menembus ke bagian depan tubuh.
Artikel Terkait
Sebelum Jadi Pulau Penjara, Nusakambangan Ternyata Pernah Jadi Monumen Alam
BGN Hentikan Sementara SPPG Tanjungsari 1 Tulungagung Usai 198 Siswa dan Guru Alami Gangguan Pencernaan
Bukan Sekadar Rekor, 300 Kilogram Belacan Habang Bangka Selatan Disiapkan Tembus Pasar Internasional
Bukan Cuma Kejar Berita, PWI Jaksel Juga Kejar Pahala Lewat Santunan Anak Yatim
Jangan Cuma Nonton! Begini Pertolongan Saat Seseorang Alami Henti Jantung