Beritaonline.co - Zaman sekarang mau mengumpulkan orang tidak perlu lagi keliling kampung sambil teriak-teriak.
Cukup buka media sosial, bikin unggahan, lalu pesan menyebar dalam hitungan detik.
Namun, teknologi yang seharusnya dipakai untuk berbagi informasi dan hiburan ternyata juga bisa disalahgunakan untuk mengajak pelajar terlibat dalam aksi yang berujung kerusuhan.
Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota mengungkap adanya dua akun Instagram yang diduga digunakan untuk memobilisasi pelajar dalam aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Kekerasan Seksual Anak Jangan Dianggap Sepele, Hukum Harus Berpihak pada Korban
Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Verdika Bagus Prasetya mengatakan, kedua akun tersebut dikelola oleh tiga orang yang seluruhnya masih berstatus pelajar.
“Satu akun dikelola oleh dua pelajar, sedangkan satu akun lainnya dikelola seorang pelajar. Keterangan ketiganya saat ini masih kami cocokkan dengan data digital untuk memperjelas peran masing-masing,” kata Verdika dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Polisi kini masih mendalami hubungan antara aktivitas di media sosial dengan kejadian di lapangan.
Pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dilakukan untuk mengetahui apakah percakapan dalam grup media sosial memiliki kaitan dengan aksi yang kemudian terjadi secara langsung.
Baca Juga: Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Tembus Rp8,3 Juta, Mulai Kerja 1 Oktober 2026
Polisi juga menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang berperan dalam mengarahkan, memfasilitasi, maupun mendanai gerakan tersebut.
Jadi, persoalannya bukan sekadar siapa yang mengetik pesan atau mengunggah konten. Polisi juga ingin mengetahui apakah ada pihak lain di belakang aktivitas tersebut.
Maklum, di era digital, satu unggahan bisa menyebar lebih cepat daripada kabar diskon makanan. Bedanya, kalau diskon bikin orang senang, provokasi justru bisa bikin masalah panjang.
Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana turut mengingatkan para alumni dan pengelola akun media sosial agar tidak menggunakan senioritas maupun kebanggaan terhadap sekolah untuk mendorong pelajar mengikuti aksi kekerasan.
Artikel Terkait
BGN Hentikan Sementara SPPG Tanjungsari 1 Tulungagung Usai 198 Siswa dan Guru Alami Gangguan Pencernaan
Bukan Sekadar Rekor, 300 Kilogram Belacan Habang Bangka Selatan Disiapkan Tembus Pasar Internasional
Bukan Cuma Kejar Berita, PWI Jaksel Juga Kejar Pahala Lewat Santunan Anak Yatim
Jangan Cuma Nonton! Begini Pertolongan Saat Seseorang Alami Henti Jantung
Tawuran di Makassar Berakhir Tragis, Polisi Cari CCTV dan Periksa Saksi