Informasi tersebut nantinya menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk menentukan wilayah pencarian berikutnya.
Syafii menjelaskan, tanpa dukungan informasi yang cukup, membuka kembali operasi pencarian gabungan dalam skala besar justru berpotensi tidak efektif.
“Sehingga kalau kita kembangkan dalam operasi gabungan lagi juga artinya kalau dari hematnya Basarnas mungkin tidak efektif,” jelasnya.
Baca Juga: Bikin Gampang Warga, ETLE Satu Atap Diaktifkan di Samsat Polda Metro Jaya
Meski begitu, ia kembali menegaskan bahwa operasi SAR tersebut bukan dihentikan begitu saja.
“Karena itu sebenarnya operasi tidak dihentikan kemarin, ini operasi dialihkan ke kesiapsiagaan,” sambungnya.
Dengan pola tersebut, informasi mengenai lima jurnalis dan kru Arupadhatu 1 tetap disebarkan melalui jaringan nelayan, masyarakat, kapal yang melintas, serta stasiun radio pelayaran.
Harapannya, kalau ada masyarakat atau awak kapal yang menemukan informasi maupun tanda-tanda yang berkaitan dengan korban, laporan tersebut bisa segera diteruskan kepada petugas.
Jadi, pencarian memang tidak lagi memakai pola pengerahan besar-besaran seperti sebelumnya. Namun, perhatian terhadap keberadaan para korban tetap berjalan.
Di tengah luasnya laut dan sulitnya memperkirakan arah arus, Basarnas kini mengandalkan kesiapsiagaan, informasi dari lapangan, serta data ilmiah untuk menentukan langkah selanjutnya. (Awo)