Baca Juga: Bulog Jelaskan Perbedaan Beras Premium untuk MBG dan Beras Fortifikasi
Menurut Putu, solidaritas antarsekolah maupun loyalitas kepada alumni seharusnya digunakan untuk hal-hal positif.
“Jangan menjadikan solidaritas sekolah atau loyalitas kepada alumni sebagai tekanan agar pelajar mengikuti ajakan yang membahayakan keselamatan mereka. Penyampaian aspirasi secara damai tentu dihormati, tetapi perusakan dan kekerasan tidak dapat dibenarkan,” ujar Putu Kholis.
Pesannya cukup jelas. Mau kompak boleh. Mau solid juga boleh. Tetapi jangan sampai solidaritas malah membuat pelajar terseret ke persoalan hukum.
Polisi juga mengingatkan para pengelola akun media sosial agar memahami dampak dari setiap pesan maupun konten yang mereka unggah.
Baca Juga: Sambo Diperiksa soal Fasilitas Mewah Lapas Cibinong, Tapi Belom Tentu Penghuninya
Sebab, dunia maya memang terasa seperti tempat bebas berkomentar. Namun, apa yang ditulis di layar ponsel bisa memiliki dampak nyata ketika dibaca dan diikuti banyak orang.
Putu meminta agar pengaruh di media sosial justru digunakan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan pelajar, bukan mengajak mereka masuk ke persoalan hukum.
Pada akhirnya, teknologi bukan masalahnya. Instagram juga bukan musuhnya.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media sosial digunakan.
HP boleh makin pintar, jaringan boleh makin kencang, tapi jangan sampai jempol lebih cepat daripada otak berpikir.
Karena satu klik mungkin cuma butuh satu detik, tetapi kalau salah langkah, urusannya bisa jauh lebih panjang. (Awo)