Baca Juga: Ompreng Jadi Ladang Setoran? BGN Temukan Yayasan Minta Uang ke Mitra MBG
Termasuk memeriksa pihak yang memberikan uang untuk mengetahui secara jelas bagaimana duduk perkara sebenarnya.
Di sisi lain, Akhmad Munir meminta wartawan terus meningkatkan profesionalisme dan kompetensi. Sebab, dunia media sekarang sudah berubah cepat.
Kalau dulu wartawan identik dengan membawa kamera, alat perekam, dan mengejar narasumber, sekarang tantangannya lebih kompleks.
Wartawan juga dituntut mampu menulis, mengirim, sekaligus mendistribusikan karya jurnalistik melalui berbagai kanal digital.
Baca Juga: Cara Membuat Nasi Uduk Gurih dengan Aroma Pandan dan Rempah yang Harum, Mudah di Rumah
“Wartawan masa kini dituntut mampu menulis, mengirim, dan mendistribusikan karya jurnalistik melalui kanal-kanal digital yang ada di media masing-masing,” ujarnya.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi tantangan baru bagi insan pers.
AI memang bisa membantu pekerjaan manusia, tetapi wartawan tetap harus punya kemampuan untuk memastikan informasi yang disajikan benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan sampai karena ingin cepat tayang, informasi belum dicek sudah langsung disebar. Kecepatan penting, tetapi akurasi tetap nomor satu. Jangan sampai berita sudah viral, ternyata faktanya masih “dalam perjalanan”.
Baca Juga: Resep Nasi Kuning Gurih dan Pulen, Cocok untuk Sarapan hingga Sajian Acara Keluarga
Akhmad juga mengingatkan wartawan untuk tetap menjalankan fungsi jurnalistik dengan menyajikan informasi yang benar, akurat, dan terverifikasi.
Hal itu penting untuk menangkal maraknya informasi bohong atau hoaks yang beredar di tengah masyarakat.
Tantangan Bukan Cuma AI
Sementara itu, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mengatakan Pemerintah Provinsi Bengkulu mendukung keberadaan pers karena media memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah.
Menurut Helmi, tantangan dunia jurnalistik saat ini bukan hanya datang dari perkembangan AI.