Polwan tidak hanya menjalankan tugas kepolisian secara umum, tetapi juga banyak terlibat dalam penanganan berbagai persoalan sosial.
Di antaranya kasus yang melibatkan perempuan dan anak, perlindungan korban, hingga penanganan tindak pidana perdagangan perempuan dan anak.
Baca Juga: Bukan Cuma Kejar Berita, PWI Jaksel Juga Kejar Pahala Lewat Santunan Anak Yatim
Kehadiran Polwan juga menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan kepolisian kepada masyarakat, terutama dalam situasi yang membutuhkan pendekatan khusus terhadap perempuan dan anak.
Kalau ditarik ke belakang, semuanya bermula dari enam perempuan di Bukittinggi pada 1948.
Saat itu mungkin belum ada yang membayangkan bahwa langkah kecil tersebut bakal menjadi sejarah besar bagi kepolisian Indonesia.
Mereka membuka pintu yang sebelumnya nyaris tidak tersedia bagi perempuan untuk masuk ke dunia kepolisian.
Baca Juga: KPK Bongkar BPN Jatim, Duit Dolar dan Perhiasan Diduga Emas Jadi Barang Bukti
Kini, Polwan sudah menjadi bagian penting dari institusi kepolisian Indonesia. Seragam boleh sama-sama menunjukkan ketegasan, tetapi perjalanan sejarahnya mengingatkan bahwa kesempatan bagi perempuan di kepolisian dahulu harus diperjuangkan.
Jadi, ketika melihat Polwan bertugas hari ini, jangan cuma melihat seragam dan atributnya.
Di balik itu ada sejarah panjang yang dimulai dari enam perempuan pemberani di Bukittinggi.
Dari enam orang, kemudian berkembang menjadi bagian penting dari kepolisian Indonesia.
Singkatnya, 1948 bukan sekadar tahun biasa. Dari Bukittinggi, sejarah Polwan resmi dimulai. (Glo)
Artikel Terkait
Korban Dugaan Keracunan Makanan di Batang Ditangani, Gibran Minta Investigasi Tuntas
52 Juta Peserta Tidak Aktif, BPJS Kesehatan Dorong Peningkatan Pembayaran Iuran
172 Peserta PPDS Unair Alami Mual dan Muntah, Sampel Makanan Diperiksa
Sambo Diperiksa soal Fasilitas Mewah Lapas Cibinong, Tapi Belom Tentu Penghuninya
Prabowo Datang Takziah, Obrolan dengan Megawati Ikut Bahas Bangsa