Di antaranya korban tiba-tiba tidak bergerak, tidak merespons ketika dipanggil atau disentuh, serta tidak bernapas secara normal.
Baca Juga: Target Revitalisasi Sekolah 2027 Bisa Bertambah 6.000 Satuan Pendidikan
Dalam situasi tersebut, orang di sekitar korban perlu segera meminta bantuan dan menghubungi layanan darurat medis.
Agus juga menyarankan masyarakat menghubungi layanan ambulans 118 jika tersedia, sembari melakukan pertolongan pertama sesuai panduan.
Jika tenaga medis datang ketika proses resusitasi masih berlangsung, penanganan dapat dilanjutkan oleh tenaga profesional.
Intinya, jangan sampai semua orang sibuk berkerumun. Yang satu merekam, yang satu komentar, yang satu bilang “kasihan”, sementara yang dibutuhkan korban justru pertolongan.
Baca Juga: Lima Pejabat Lapas Cibinong Dinonaktifkan Usai Temuan Fasilitas Mewah
Agus menjelaskan, kompresi dada dilakukan dengan menempatkan pangkal telapak tangan di bagian tengah dada, tepatnya pada separuh bawah tulang dada.
Kedua tangan ditumpuk dengan posisi siku lurus, kemudian dada ditekan secara kuat dan berirama.
Kecepatan kompresi yang dianjurkan adalah 100 hingga 120 kali per menit.
Kompresi dilakukan terus-menerus sampai korban menunjukkan tanda-tanda kehidupan atau bantuan medis mengambil alih penanganan.
Baca Juga: Harvest Moon Hiasi Langit Malam 26 September 2026, Ini Waktu Terbaik untuk Mengamatinya
Kondisi korban juga perlu dievaluasi apabila mulai menunjukkan respons, seperti adanya gerakan atau pernapasan spontan.
Yang perlu diingat, pertolongan darurat bukan ajang coba-coba. Kalau belum pernah mendapatkan pelatihan CPR, masyarakat sebaiknya mengikuti panduan operator layanan darurat dan pelatihan resmi agar tindakan yang dilakukan tepat.
Agus mengingatkan masyarakat agar tidak membuang waktu dengan memberikan minuman atau mengoleskan minyak angin kepada orang yang mengalami henti jantung.