“Kalau tidak ada aliran darah, berarti tidak ada oksigen. Dalam tiga sampai lima menit, otak bisa mengalami kerusakan permanen,” jelasnya.
Jadi, kalau ada orang mengalami henti jantung, jangan sampai pertolongannya malah berubah jadi acara “minum dulu biar enakan”.
Dalam kondisi darurat, yang dibutuhkan adalah segera meminta bantuan medis dan melakukan kompresi dada sesuai panduan pertolongan pertama.
Selain membahas pertolongan pertama, Agus mengingatkan masyarakat agar lebih mengenali kondisi detak jantung.
Pada orang dewasa dalam kondisi istirahat, detak jantung normal umumnya berada di kisaran 60 hingga 100 kali per menit.
Baca Juga: Iran Peringatkan Konflik AS-Israel Bisa Meluas, Samudera Hindia Ikut Disebut
Detak jantung di atas 100 kali per menit dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti aktivitas fisik, demam, maupun gangguan irama jantung.
Sebaliknya, detak jantung yang terlalu lambat dan tidak meningkat sesuai kebutuhan tubuh juga perlu mendapat perhatian.
Agus mencontohkan kondisi total AV block, yakni gangguan hantaran listrik jantung yang dapat membuat detak jantung tetap lambat meskipun seseorang melakukan aktivitas fisik.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan keluhan seperti mudah lelah, pusing hingga pingsan dan membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Baca Juga: GBK Jadi Pusat Perhatian, Macet Mengintai: Yang Kagak Nonton, Cari Jalan Alternatif!
Agus juga mengingatkan masyarakat mengenai penyakit jantung koroner yang dapat terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang memasok darah ke otot jantung.
Karena itu, menjaga kesehatan jantung sebaiknya dilakukan sejak sekarang. Bukan nunggu badan kasih “surat peringatan” dulu baru mulai olahraga.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain menjaga pola makan dan keseimbangan gizi, menghindari rokok, mengelola stres, memantau tekanan darah, serta berolahraga secara teratur.