Beritaonline.co - Urusan rumah tangga kadang kagak selesai cuma gara-gara tanda tangan surat cerai. Ada satu perkara yang sering bikin kepala pening, yaitu harta gono-gini.
Istilah gono-gini biasanya dipakai buat nyebut harta yang diperoleh selama perkawinan dan menjadi harta bersama suami istri.
Nah, pas perkawinan berakhir, pembagian harta ini bisa jadi perkara sendiri kalau kedua belah pihak kagak sepakat.
Biar kagak makin puyeng, yuk kita bedah pelan-pelan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.
Baca Juga: OTT di Hotel, Dua PPPK Banyuasin Diduga Minta Fee dari Dana Revitalisasi
Harta Gono-Gini Itu Apaan Sih?
Dalam Pasal 35 UU Perkawinan, istilah yang digunakan adalah harta bersama. Sederhananya, harta yang diperoleh selama perkawinan masuk kategori harta bersama.
Sementara itu, ada juga harta bawaan, yaitu harta yang sudah dimiliki sebelum menikah. Contohnya duit tabungan sebelum menikah, warisan, atau hadiah tertentu.
Jadi, jangan mentang-mentang udah nikah terus semua harta otomatis jadi gono-gini, ye. Ada jenis hartanya masing-masing.
Baca Juga: Bukan Cuma Ngatur Jalan, Bang! Begini Panjangnya Sejarah Lalu Lintas Bhayangkara
Kalau Cerai, Hartanya Dibagi Gimana?
Dalam praktik hukum perdata, pembagian harta bersama dapat dilakukan setelah perceraian. Kalau pasangan sebelumnya sudah membuat perjanjian perkawinan, ketentuan dalam perjanjian tersebut juga bisa menjadi acuan.
Mahkamah Agung melalui Yurisprudensi No. 913 K/Sip/1982 pernah menyatakan bahwa gugatan perceraian tidak dapat digabung dengan gugatan mengenai harta benda perkawinan.
Artinya, urusan cerai dan pembagian harta bisa menjadi perkara yang berbeda. Jadi kagak bisa semuanya disatuin begitu aja, Bang.
Dalam ketentuan yang menjadi rujukan pembagian harta bersama, harta yang diperoleh selama perkawinan pada prinsipnya dibagi antara mantan suami dan mantan istri sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Baca Juga: Waduh! Kalki 2 Udah Syuting 30 Persen, Amitabh dan Kamal Haasan Bikin Penasaran
Kalau Dalam Hukum Islam Gimana?
Dalam perspektif hukum Islam, ada beberapa jenis harta dalam perkawinan. Ada harta bawaan, harta yang diperoleh masing-masing dari warisan atau hibah, serta harta pencaharian yang diperoleh dari usaha suami, istri, atau keduanya.