Ini yang membuat publik merasa kecewa.
Bukan karena pelaku pernah memakai atribut agama.
Tetapi karena nilai yang dibicarakan tidak sejalan dengan perilakunya.
Namun, satu hal juga penting.
Kita tidak boleh menyamaratakan semua orang yang rajin beribadah sebagai orang yang berpura-pura.
Banyak orang religius yang hidup jujur, sederhana, dan benar-benar menjaga amanah.
Jadi persoalannya bukan agama.
Baca Juga: Polwan Bukan Tiba-Tiba Ada, Sejarahnya Dimulai dari Enam Perempuan
Persoalannya adalah manusia yang mungkin saja gagal menjalankan nilai agama yang diyakininya.
Jangan sampai karena ada orang yang korup tetapi memiliki gelar keagamaan, kemudian semua orang beragama dicurigai.
Itu juga tidak adil.
Agama tetap memiliki tempat penting dalam membentuk moral.
Yang harus dikritik adalah perilaku menyimpang, bukan keyakinannya.
Masyarakat sebenarnya tidak membutuhkan pejabat yang paling pintar memberikan ceramah.
Masyarakat membutuhkan pejabat yang bisa dipercaya.